Di sini perhentianku/pada gundah dan rindu yang sangat mendera/menyayat-nyatat dinding jiwa/membentuk luka kemudian air mata//
Lalu ku minta tanggung jawabmu/atas luka/atas airmata/yang kudapati hanya bisu seribu kata//
Maka ku larut semua duka itu di tanah-tanah basah/sepanjang pelarian kembali untuk menuju tempat pulang//
Tapi di sinipun tak ada apa-apa/hanya sisa bau perih yang tertinggal/dan kemana lagi aku harus berlari/kemana lagi aku harus bersinggah meletakan hati yang tak ingin ku bawa-bawa lagi//
puisi yang indah dan melarutkan. namun mengapa ada sekat di antara kalimat? bukankah lebih baik sekat itu diganti dengan titik atau koma? sehingga, kata demi kata bisa saling berinteraksi dan mengenal, nirbatas. salam kenal.
BalasHapus